Tuesday, August 4, 2009

Janganlah persendakan agama nescaya ia akan mempermainkan diri kamu

Di dalam puisi pertama ini, hamba bakal menceritakan sedikit sebanyak tentang kehidupan Si Kucing ini.

Meskipun pahit untuk mengungkapkannya,ia sekadar penawar bagi teman-teman ku yang masih mencari jawapan untuk taubat.Ada di antara rakan hamba yang baru dibebaskan dari penjara dan sebagainya.Semoga ia dapat membantumu.

Hamba akur ramai yang menganggap hamba ini gila dan sebagainya akan tetapi pengalaman adalah guru terbaik untuk mengajar diri kita.

Mutiara yang dimaksudkan di sini adalah iman seseorang

Menanti Dewasa...

Hidup dalam penyesalan dinilai sifar
Tiap detik penuh gementar
Masih kuteruskan sisa semangat
Tiap hari lidah masih menyengat

Biarlah
Biarlah mereka terus mencaci
Bukan hakku menutup hak yang hakiki
Apa yang mereka dengar, lihat
Merekalah yang mampu menilai sendiri

Menanti dewasa
Bukannya aku semakin perkasa
Aku begini karena pilihan cara hidup sendiri
Yang buruk tetap daripadaku
Yang indah semua atas kehendakMu

Akulah si plastik yang menghias diri
Niat hanya jadi seperti insan biasa
Tidak mahu mereka curiga
Yang kiri norma mengapa yang kanan beda warnanya

Warna hanya tinggal warna
Buta tetap buta
Hidup mula berubah
Ah! Aku kan orang biasa
Angkuh menyelimuti,pujian suluh lagi
Lupa puji pinjamanNya
Lupa nafas hanya sementara
Lalai mutiara sudah sirna
Dahulu sabar wah sekarang kian mencabar
Sayup keluh mengenang dosa

Entah akal hilang di mana!
Airmata hanya melembabkan raut wajah

Menanti dewasa
Di dalam kaburnya sinar titis ini
Masih ada yang membimbingku
Yang pahit jangan dibuang semua
Yang manis jangan ditelan semua
Wahai anak binalah semula semangatmu
Sabar pasti selamatkanmu

Kini aku sadari
Lebih setahun
Lebih lima tahun
Kegelapan ini puncaku sendiri
Teguran ibu yang endah tak endah
Nasihat ayah tidak kuguna
Pukulan ibu tiada jadi ingat
Tiada makna dikumpul berpingat-pingat

Maafkan aku kepadamu yang pernah
berikan aku harapan baru
Nafasku lelah semakin tegar
Maafkan aku adik-adikku
Kakakmu jatuh penuh bertalu
Maafkan aku
Aku masih daif karena ketidaksyukuranku

Menanti dewasa
Harusku belajar semula
Mengukuhkan asas
Patah sayapku kini terbatas
Ya Allah
aku hanyalah debu di sisiMu

Terimalah taubatku ini
Andai persisiran disucikan ombak
Aku mahu terus mencariMu
Aku takut kehilangan damai ini yang telah kau beri
Tilamku pastikan menjadi tanah suatu hari nanti

Nadaku semakin sumbang
Diburu tangis yang tidak seimbang
Kiniku percaya Engkaulah yang Esa
Sayap kita damai dan cinta
Bacalah untuk dijadikan senjata
Bacalah untuk leraikan tumpahan darah
Usah dibaca jika engkau belum mampu berjanji
Karena yang kau bakal mampu
Tompokkan kekeliruan lagi

Inilah
Hanyalah pengalaman hidupku
Menanti saat aku dijemput
Seperti mereka yang telah pergi
Aku kamu dan kita
Umpama tiram
Akan kembali ke lautan
Bersama mutiara tersisa
Entah terang
Entah malap
Ya Allah janganlah gelap
Pasti tenggelam jua
Kepada dunia beda milik yang Esa
Tundukku
Menanti Dewasa

Puisi ini telah diilhamkan kepada ku berdasarkan kata2 nasihat dari kedua orang tuaku dan tidak lupa kepada temanku di dunia dan akhirat Zainab Jamaluddin

Beliau adalah sebaik-baik teman

Hamba akan 'link'kan blognya semoga teman-teman hamba terbuka hati untuk berubah
Amiin
Alhamdulillah
PeaceLove

No comments:

Post a Comment